Oleh: macandunia | 16 62009pUTC02bUTCSat, 21 Feb 2009 04:13:36 +0000 2008

PENYIMPANGAN PERILAKU SEKSUAL

Seri Psikologi klinis
PENYIMPANGAN PERILAKU SEKSUAL

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Permasalahan
Hanya sedikit yang lebih menyenangkan dari kehidupan selain perilaku seksual, karena perasaan seksual merupakan bagian dari perkembangan dan fungsi sehari-hari. Aktivitas seksual sangat berhubungan dengan kepuasan dari kebutuhan dasar, dan perilaku seksual sangat dihubungkan dengan harga diri kita. Perilaku seksual adalah fokus utama baik pada pikiran individu ataupun opini umum, dengan kata lain perilaku seksual yang abnormal lebih menarik untuk hampir semua orang, dari pada fungsi yang normal. Kebanyakan orang tertarik pada permasalahan seksual orang lain dan khawatir akan ketidak normalan seksual mereka.

Masyarakat kita sangat ingin tahu tentang ketidaknormalan perilaku seksual dan sebaliknya banyak orang malu punya masalah ini dan merasa terbebani dari kedekatan, rasa bersalah, membenci diri sendiri sebagai konsekuensinya.Ada dua macam penyimpangan seksual yaitu penyimpangan fungsi seksual dan paraphilias. Orang dengan disfungsi seksual tidak dapat berfungsi secara normal dalam respon seksual, mereka mungkin tidak dapat membangkitkan seksualnya. Orang dengan paraphilias bisa kambuh dan sering menimbulkan keinginan seks dan membangkitkan fantasi seksual dalam merespon obyek-obyek seksual ataupun situasi yang ditimbulkan dengan aktivitas seksual melalui seorang anak kecil atau dengan memperlihatkan alat kelamin dengan orang lain.

B. Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini diharapkan dapat memperkuat teori mengenai penyimpangan seksual dan cara menanggulanginya. Sehingga bisa menambah wacana tentang bagaimana cara mengatasi penyimpangan seksual.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Disfungsi Seksual
Disfungsi seksual adalah tidak berfungsinya alat kelamin laki-laki ataupun wanita dengan baik. Hal ini disebabkan oleh kegagalan ereksi pada laki-laki, dan kesukaran orgasme pada wanita. Penyebab umumnya adalah pada pengalaman mereka, frustasi, rasa bersalah karena gagal, kehilangan harga diri, dan masalah emosional dengan pasangan seksual. Semua itu adalah efek psikologis yang khas dari disfungsi seksual. Disfungsi seksual umumnya menyebabkan perceraian dan jika beruntung pada sebagian disfungsi dapat diobati dengan terapi keberanian.

B. Type Disfungsi Seksual
Dsm-III- R menggolongkan disfungsi seksual berdasarkan tahap-tahap pertukaran respon seksual, sebagai penjelasan pertama oleh penelitian William Master dan Virginia Jonson (1966), ditambah oleh ahli terapi seks didefinisikan dalam bukunya yang berjudul “Pembuka Penyimpangan” (1974,1977). Dalam klasifikasi ini disfungsi seksual didefinisikan “pembuka penyimpangan psikologis yang membuat tidak mungkin individu untuk menikmati senggama”
Disfungsi dapat mempengaruhi pada tiga tingkatan pertama dari perputaran, yaitu:

1. Tahap keinginan, tahap rangsangan, tahap orgasme.
Ada juga tahap yang lain yaitu resolusi, tetapi sebagai perilaku sederhana dari relaksasi dan penurunan hasrat yang mengikuti orgasme tidak ada dalam pengelompokan disfungsi. Tahap keinginan terdiri dari perasaan mendesak untuk melakukan seks, mempunyai fantasi seksual dan keinginan sex pada orang lain.
Disfungsi seksual yang dimasukan pada tahap keinginan yaitu hypoactive sexual dexire adalah kurang tertariknya dalam seks, dan sebagai hasilnya tingkatan yang rendah pada aktivitas seksual. Saat seseorang dengan melakukan seks, seseorang sering berfungsi secara normal, bahkan menikmati pengalamannya, tapi tidak menemukan kepuasan. Pasien dengan aversion sebaliknya, melakukan aktivitas seks yang tidak menyenangkan. Berdasarkan pengalaman hasrat dan kesenangan, pasien ini sering merasakan perubahan, kemualan dan ketakutan.

2. Tahapan Rangsangan Seksual Ditandai Oleh Rangsangan Fisik Secara Umum.
Misalnya perubahan kecepatan detak jantung, tensi otot, tekanan darah, pernafasan dan perubahan khusus didaerah panggul. Dorongan pada panggul disebut Pelvic Vasocongestion, membuat ereksi penis pada laki-laki dan membesarnya clitoris, labia dan memproduksi lebrikasi vaginal pada wanita. Disfungsi pada tahap ini adalah male erectile disorder (impoten) dan female arausal disorder. Versi awal dari DSM tidak membedakan antara hasrat fisik dan pengalaman subyektif dari hasrat emosional dan ahli terapi seks memperhitungkan lebih detail sistem klasifikasi yang dibutuhkan (Scahover, 1982).
DSM-III-R mendefenisikan penyimpangan rangsangan seksual meliputi penyimpangan atau penambahan besar genetal wanita, penis tidak dapat ereksi, kurangnya perasaan subyektif dari hasrat seksual dan kesenangan baik pada wanita atau pada laki-laki.

3. Tahap Orgasme Dari Perputaran Respon Seksual dan Kontraksi Otot Bagian Panggul.
Umumnya disfungsi seksual laki-laki pada tahap ini adalah ejakulasi dini yang didefenisikan sebagai ejakulasi dengan stimulus sebelum pada atau sesudah penetrasi dan sebelum orang mengharapkannya (APA, 1987, P-295). Kadang-kadang seorang laki-laki tidak dapat mencapai orgasme, walaupun stimulusnya cukup, hal ini disebut inhibited male orgasm (DSM-III-R), tapi sering diartikan sebagai ejakulasi dini, kemampuan ejakulasi yang lambat pada wanita disebut inhibited female orgams (DSM-III-R). DSM-III-R membuat 2 daftar disfungsi lain sebagai sexual pain disorder atau adanya rasa sakit pada aktivitas seksual, vaginimus, kejang otot sekitar vagina, tempat masuknya penis, disparaneuca berarti sakit pada alat genital selama aktivitas seksual, ini jarang terjadi pada laki-laki.

C. Penyebab Disfungsi Seksual
Teori penyebab disfungsi seksual berpusat pada pengaruh masa kecil yang belajar tentang seks, sikap dan kepercayaan yang problematik, penyebab biologis seperti efek penyakit dan pengobatan, faktor psikodinamik individu, dan masalah hubungan dengan orang lain. Definisi dari rendahnya hasrat seksual kadang bermasalah, DSM-III-R mendefinisikan disfungsi ini sebagai persistently atau penurunan yang berulang atau absennya fantasi seksual dan hasrat untuk aktivitas seksual. (Blum Stein dan Schwartz, 1983), mengindikasikan bahwa rata-rata frekuensi seksual adalah dua atau tiga kali seminggu untuk pasangan menikah.
Sebenarnya hampir semua kasus memperlihatkan dalam terapi seks tidak hanya meliputi hasrat seksual yang hipoactive, tetapi sebenarnya tidak efisiennya hasrat seksual (Loppiccolo dan Friendman, 1988). Pasien ini tidak punya ketertarikan apa lagi dalam hubungan seksual dengan pasangannya, tidak onani dan tidak punya fantasi seksual. Dorongan seks ditentukan oleh kombinasi faktor fisik dan psikologis, tetapi kondisi fisik tertentu dapat menurunkan dorongan seksual.

Beberapa obat terlarang, baik prenscription dan illicit dapat mendorong atau meningkatkan hasrat seksual (Segraver, 1988), hampir semua obat psikotropika mempengaruhi tingkat neurotransmiter seperti dopamin atau serotin, yang nampaknya menimbulkan atau meningkatkan hasrat seksual, illicit drug seperti kokain, marijuana, ampheramina dan heroin dapat meningkatkan hasrat seksual dalam dosis yang rendah (Bancroft, 1989).
Sakit fisik yang kronis juga dapat menekan dorongan seks (Bullard, 1988), rendahnya dorongan seks dapat disebabkan oleh efek peyakit tersebut, efek pengobatan pada hormon seks atau akibat dari stress, sakit, dan depresi juga dapat mempengaruhi dorongan seksual. Penyebab psikologis lebih bervariasi dan kompleks, faktor situasional seperti perceraian, kematian keluarga, stress pekerjaan dapat menyebabkan hipoaktif hasrat seksual (Kaplan, 1979)

III. PEMBAHASAN
Psikoanalisis dari Freud menyebutkan bahwa disfungsi seksual disebabkan oleh kegagalan untuk melawan tahap perkembangan psikoseksual pada masa anak-anak. Menurut teori behavioral, disfungsi seksual merupakan akibat dari ketakutan yang diketahui untuk menutupi respon seksual.

Jenis-Jenis Disfungsi Seksual dan Treatment Penyembuhannya:
1. Hipoactive Hasrat Seksual dan Keengganan seksual
Disfungsi ini membutuhkan program lebih lama dan lebih kompleks dari yang lain. (Jerri Frienman dan Lopicole, 1988), menjelaskan ada 4 elemen:
a. Tahap pertama disebut affectual awarness (mempengaruhi kesadaran) berpusat pada membantu klein menjadi sadar pada emosi negatif mengenai seks.
b. Tahap kedua disebut insight, membatu klien mengerti mengapa mereka mempunyai emosi negatif yang diidentifikasi pada fase pertama.
c. Tahap ketiga disebut cognitive and emotional change, pada tahap ini teknik kognitif diaplikasikan pada pemikiran rasional dan emosi yang menghalangi hasrat seksual. Klien membangkitkan “coping statements” yang membantu mereka mengubah emosi negatif dan pemikiran negatif.
d. Tahap keempat terdiri dari keahlian behavioral interventiens atau campur tangan lingkungan. Pada tahap ini kemampuan training, dan terapi prosedur seks umum yang lain diperkenalkan, dorongan seks dipertinggi dengan berbagai cara seperti membaca buku tentang seks, menonton film yang isinya adegan erotis, dan lainnya.

2. Kegagalan Ereksi
Perlakuan pada kegagalan ereksi juga terdiri dari pengurangan ketakutan performansi dan penambahan stimulus, selama berpusat pada sensasi, pasangannya belajar mengoda, jika ia dapat ereksi dari respon itu, mereka menghentikan sampai tidak lagi ereksi. Latihan ini mengajari mereka bahwa ereksi terjadi secara alami dalam merespon stimulus.

3. Ejakulasi Dini.
Dengan prosedur “berhenti – mulai”, penis distimulus sampai laki-laki sangat terangsang. Pasangan mengistirahatkan sampai rangsangan mereda, lalu stimulasi dimulai lagi, hal ini diulangi beberapa kali.

4. Halangan Ejakulasi
Halangan orgasme laki-laki dengan mengurangi ketakutan performansi dan menambah stimulus yang cukup memadai. Pasangan wanita diminta untuk mengusap-usap penis secara manual sampai laki-laki terangsang, tetapi stimulus itu berhenti saat laki-laki merasa sudah dekat dengan orgasme.

5. Disfungsi Rangsangan dan Orgasme Pada Wanita
Treatmennya termasuk eksplorasi diri, kesadaran badan, dan latihan masturbasi langsung (Heiman & Lopiccolo, 1988).
Direct masturbation mempunyai 9 tahap:
1. Wanita menggunakan diagram dan membaca benda-benda sederhana untuk mempelajari badannya, alat kelaminnya dan respon seksual wanita.
2. Ia menjelajahi badannya dengan sentuhan.
3. Terdiri dari area peka erotik, berpusat pada payudara dan alat kelamin, terutama klitoris.
4. Stimulus aktual pada daerah (no.3), masturbasi.
5. Masturbasi erotik diikuti oleh gambaran seksual, cerita dan fanstasinya sendiri.
6. Ada 3 element:
a. Jika wanita belum pernah orgasme, ia akan mulai dengan getaran elektronik untuk menambah intensitas stimulus.
b. Ia akan diminta berperilaku orgasme yang sangat berlebihan.
c. Ia akan mengunakan “orgasme triggers (pemicu orgasme)” seperti mempercepat atau menambah nafas, mengerutkan otot panggul, mengeraskan otot kaki dan mendorongkan panggulnya.
7. Latihan dalam komunikasi dan keahlian seksual untuk mendemontrasikan kepasangan, bagaimana ia suka disentuh dan bagaiman ia dapat orgasme.
8. Pasangan membawanya orgasme dengan stimulus manual, oral atau getaran.
9. Laki-laki dan wanita mempraktekkan dalam posisi yang mengijinkan satu atau yang lain untuk melanjutkan menstimulus distorisnya saat penis di dalam vagina.

6. Vaginimus

Pasien vaginimus berlatih mengkerutkan dan mengendurkan otot pubolo ceygeal yang telah disebut sebelumnya, adalah bagian dasar atau bagian bawah pelvic dan sekitar vagina sampai mereka dapat mengontrol otot vaginanya. Untuk menghilangkan ketakutan penetrasi terhadap alat secara berangsur-angsur melebarkan, yang mereka masukan pada vagina mereka di rumah dan dengan cara mereka sendiri, sehinga mereka tidak trauma. Lalu saat wanita dapat dengan nyaman memasukan dilators terbesar, ia mulai menuntun pasangannya seperti ia memasukan dilators secara perlahan

7. Dyspareunia
Sejak psychogenic dengan pareunia diketahui disebabkan oleh penurunan rangsang, prosedur terapi seks umum dan teknik kasus yang digunakan, misalnya saat rasa sakit disebabkan luka, pasangan bisa mengambil posisi yang tidak meletakan atau menekan pada daerah yang sakit atau daerah yang terluka.
8. Paraphilias
Orang yang paraphilias mempunyai dorongan seksual yang berulang-ulang dan tetap, fantasi dorongan seksualnya baik pada orang dewasa maupun pada anak-anak ataupun pada temannya sendiri. Fetishism adalah dorongan seksual yang tetap dan berulang-ulang. Fantasi dorongan seksual ini meliputi pengunaan benda mati atau bagian tubuh lainnya. Biasanya penyimpangan ini terjadi pada remaja awal. Hampir semua benda dapat menjadi pusat dari fetishism, dari telinga sampai pakaian dalam (Raphling, 1989)
Kaum behavior kadang-kadang menggunakan aversion terapi untuk fetishism, di satu study digunakan elektrik shock pada lengan dan kaki, saat membayangkan obyek. Setelah dua minggu memperlihatkan kemajuan, teknik aversion yang lain yaitu covettensitization adalah fetishism dipakai untuk membayangkan sesuatu yang menyenangkan tetapi benda yang tidak diinginkan dan berulang untuk memasang bayangan ini, dengan bayang stimulus yang tidak diinginkan, sampai obyek dari kesenangannya tidak merangsang.
9. Transvestic Fetishisme

Transvestic fetishisme juga dikenal sebagai transvestism atau cross-dressing, yaitu keinginan yang berulang dan dorongan untuk memakai pakaian lawan jenis untuk mencapai rangsangan seksual. Berdasarkan penelitian penyebabnya adalah pembiasaan memakai pakaian lawan jenis pada masa terdahulu atau pada masa anak-anak.


10. Pedophilia

Pedophilia adalah suka pada anak kecil dengan cara memandang, menyentuh, menarik hati dalam aktivitas seksual sederhana dan komplek dengan anak sebelum puber, biasanya 13 tahun kebawah. Beberapa pedophilia puas dengan gambar-gambar porno anak kecil, lainnya dorongan untuk memandang, mengendong atau menarik hati dalam hubungan seks dengan anak (Grinspoon,1986). Di satu study didapat bahwa 4% korban pedophilia adalah anak berumur 3 tahun kebawah, 28% umur 4-7 tahun, 40% 8-11 tahun (Mohr, 1964). Ini terjadi pada masa remaja awal.

11. Exhibitionism
Orang yang ekhibitionism mempunyai fantasi rangsangan seksual dengan memperlihatkan alat kelaminnya pada orang lain (Abel, 1989), selanjutnya hubungan seks dengan orang lain biasanya tidak ada keinginan atau usaha yang menjadi rangsangan adalah rasa kaget atau terkejut. Biasanya ini terjadi pada waktu sengang atau pada waktu stress hebat.
Exhibitionism terjadi karena kegagalan pendekatan pada lawan jenis dan mempunyai hubungan intrapersonal yang jelek. Sebagian penderita ini menikah tetapi tidak mendapatkan kepuasan (Blair & Langon, 1981 & Mehr Turner & Jerry, 1969). Banyak kekurangan dan ketakutan tentang kelaki-lakiannya dan kenyataan mempunyai hubungan yang kuat dengan ibu. Treatmennya sama dengan paraphilia.

12. Voyeurism
Orang yang mempunyai hasrat seksual yang tetap dan berulang untuk melihat orang saat telanjang atau orang yang sedang senggama. Voyeurism mungkin masturbasi saat atau sedang melihat ataupun mengintip. Biasanya mulai sebelum usia 15 tahun dan dapat menjadi kronis.
13. Frontheurism
Orang mempunyai hasrat seksual yang tetap dan berulang, dengan menyentuh atau mengusap tanpa persetujuan orangnya. Biasanya dilakukan ditempat ramai, hampir penderitanya adalah laki-laki. Mungkin memegang alat kelamin, pantat, payudara dengan tangannya, setelah usia 25 tahun perlahan-lahan hilang.
14. Sexual Masochism
Adalah pola secara berulang dan tetap pada dorongan seksual dan fantasi seksual dengan digigit, dihina, dipukul untuk membuat menderita dan kadang-kadang patner mengunakan alat untuk meyiksa. Ia memperoleh kepuasan dalam rasa sakit yang ia rasakan.
15. Sexual Sadisme
Pola secara berulang dan tetap pada dorongan seksual dan fantasi seksual dengan cara mendominasi, mengendalikan, menutup mata lawan, memotong, memegangi, bahkan membunuh korban. Penyebab adalah trauma saat kecil atau hal lain yang mengangu jiwanya dan terbawa sampai dewasa. Terkadang jika masochism dan sadisme menjadi pasangan, tidak ada keluhan apa-apa, tetapi berbeda jika pasangannya adalah orang yang normal.

IV. PENUTUP & KESIMPULAN

Disfungsi seksual adalah reaksi yang tidak semestinya atau tidak normal terhadap stimulus atau rangsangan seksual. Hal ini dipengaruhi oleh faktor psikologis maupun faktor fisik. Menurut Dsm-III-R disfungsi seksual mempengaruhi tiga tahap awal dari perilaku seksual yaitu; tahap keinginan, tahap rangsangan, tahap orgasme. Apabila ketiga tahap ini terganggu, maka perilaku seksual tidak berjalan semestinya dan kedua belah pihak (baik laki-laki atau wanita) tidak akan mengalami kepuasan yang maksimal.

Teori penyebab disfungsi seksual ini berpusat pada pengaruh masa kecil dan belajar tentang seksual, sikap dan kepercayaan yang problematik, kesemuanya itu adalah penyebab psikologis. Penyebab biologis seperti efek dari penyakit dan pengobatannya.
Jenis-jenis dari disfungsi seksual adalah seperti hipoactive hasrat seksual dan keengganan seksual, kegagalan ereksi, ejakulasi dini, halangan ejakulasi, disfungsi rangsangan dan orgasme pada wanita, vaginimus, dyspareunia, paraphilias, transvestic fetishisme, pedophilia, exhibitionism, voyeurism, frontheurism, seksual masochism, seksual sadism. Kesemuanya itu dapat dicegah atau diobati dengan terapi tertentu.


Daftar Pustaka

Chaplin, J.P. 2000, Kamus Lengkap Psikologi. Terjemahan : Kartini Kartono. Bandung : PT Grafindo Persada.
.Freud, S. Three essays on sexuality. In Standard edition.Vol.7.London : Hogart Press, 1953 (First German Edition, 1901).
.Freud, S. “Civilized” Sexual morality and modern nervous illness. In Standard edition.Vol.9.London : Hogart Press, 1955
Hawari, Dadang : Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa.Yogyakarta : PT. Dana Bhakti Prima Yasa.
Hall, C.S. & Lindzey, G. Teori – Teori Psikodinamik (Klinis).Terjemahan : Supratiknya, A.Yogyakarta : Kanisius
Nigel, C.& Grove, S. Mengenal Psikologi .Editor : Ricahard Appignasesi. Jakarta : Mizan.


Responses

  1. alhamdullillah makasih eea ini sangat membantu

    • Terima Kasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: