Oleh: macandunia | 16 72008pUTC11bUTCSun, 09 Nov 2008 06:59:53 +0000 2008

Optimalisasi Gerakan Intelektual, Menuju Kejayaan Islam

Optimalisasi Gerakan Intelektual, Menuju Kejayaan Islam”

Oleh : Yudi Hermawan

Tidak Sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali agar mereka dapat menjaga diri”

(Q.S At-Taubah:122)

Pada saat ini tantangan kehidupan semakin berat, ditambah dengan semakin sempitnya peluang orang-orang miskin untuk mewujudkan cita-citanya. Sebagai seorang aktivis harusnya kita memperjuangkan nasib mereka, sehingga mereka mendapat kehidupan semakin layak dan mendapatkan kebahagian. Sudah saatnya pula, kaum intelektual dan akademisi memberikan solusi atas penderitaan mereka. Karena hanya orang-orang terdidik dan mempunyai kapasitas intelektual tinggi yang bisa membela nasib kaum dhuafa, untuk mendapatkan haknya.

Dalam hal ini sudah saatnya kapasitas intelektual, kita tingkatkan dan mari kita wujudkan dalam sebuah pergerakan. Dimana gerakan itu bisa memunculkan komunitas cendikia yang santun, radikal, dan kritis. Gagasan gagasan ini muncul untuk bagaimana kita bisa memahami realitas sosial globalisasi, menguatnya neoliberalisme saat ini dan tidak sekedar meratapinya. Untuk itu tugas seorang intelektual adalah ikut menciptakan sejarah dengan membangun gerakan pemikiran dan kesadaran kritis untuk memberi makna kesadaran kita sendiri.

Kita tahu saat ini telah banyak teori paham dan aliran, salah satunya adalah teori kelas dari marxisme. Disitu ada kesalahpahaman tentang teori marxisme tersebut. Marxisme kemudian berkembang menjadi suatu aliran teori-teori ilmu pengetahuan, kebijakan politik, gerakan sosial dan budaya, serta praktik-praktik politik. Padahal sebenarnya semangat yang mendasari Mark dalam analisisnya berangkat dari pandangan moral keadilan dan cita-cita untuk perubahan sosial menuju masyarakat yang adil. Marx, sebagai individu, coba dipetakan sebagai filosof sosial dan sebagai pemikir keadilan sosial.

Pada bagian tersebut dipaparkan bagaimana teori kelas berguna untuk menjelaskan eksploitasi ekonomi yang dilakukan oleh kaum kapitalis. Mengenai persoalan kelas sosial yang diyakini oleh pengikut marxis, lebih pada kekayaan. Jadi, jika seseorang memiliki kekayaan yang amat banyak, maka dia disebut kelas elit. Pandangan seperti inilah yang menyebabkan diciptakannya masyarakat tanpa kelas yang sama rata sama rasa. sebagaimana dipraktikkan di Uni Soviet. Sementara menurut Althrusser, persoalan kelas ini adalah persoalan ketidakadilan yang berupa pencurian nilai lebih. Jadi dalam pengertian ini persoalannya adalah bagaimana menciptakan masyarakat tanpa eksploitasi. Hal ini melibatkan banyak sekali unsur dalam masyarakat dan membutuhkan tata ekonomi yang baru agar kekayaan itu bisa didistribusikan dengan adil kepada rakyat.

Penegasan bahwa Marxisme bukan agama, melainkan sebagai salah satu aliran dalam pemikiran sosial dala rangka mencari sistem sosial yang adil. Masyarakat tanpa kelas bukanlah masyarakat yang sama rata sama rasa, melainkan sebuah masyarakat tanpa eksploitasi ,dan pencurian nilai lebih. Sehingga nilai itu tidak hanya dinikmati oleh kapiltalis, tetapi juga didistrisibusikan kepada semua sektor masyarakat. untuk itu yang diperlukan tidak hanya perubahan mode of production, tetapi juga transformasi sosial yang luas lagi terhadap sistem sosial yang tergantung pada nilai lebih tersebut.

Dalam agenda gerakan sosial, kita mencoba mendeskontruksi terhadap wacana yang dominan saat ini: reformasi. Landasan paradigmatik dan teoritik yang melatarbelakangi paham reformasi ini. Analisis tentang perubahan yang muncul, kebanyakan diwarnai oleh dua aliran teori sosial yang sesungguhnya saling bertentangan antara teori “modernisasi” yang berakar pada paradigma sosial positivisme, dan paham teori sosial kritik atau yang dikenal dengan teori sosial emansipatoris seperti teori kritis Frankfurt, neomarxisme, juga paham posmodernisme. Perubahan sosial saat ini sedang diuji apakah mampu mentransfortmasikan relasi sosial politik menjadi relasi yang lebih adil yang wataknya emansipatoris ataukah lebih reformasi sosial. Seharusnya perubahan sosial yang terjadi memiliki persepektif transformatif, dan memiliki jangkauan yang luas baik dari segi metodologi, agenda maupun motivasi. Perubahan sosial yang berperspektif transformatif juga menyangkut hal-hal untuk memenuhi kebutuhan praktis dan strategis golongan miskin. Hanya dengan cara yang luas inilah perubahan sosial dapat menyumbangkan transformasi sosial yang lebih baik .

Mengenai paradigma perubahan sosial, mengutip pemikiran Habermas yang membagi paradigma ilmu sosial dalam tiga jenis. Pertama, ilmu sosial sebagai instrumental knowledge, pengetahuan lebih dimaksudkan untuk menaklukkan dan mendominasi obyeknya. Ilmu sosial diperlakukan sebagai ilmu alam, yang menganut positivisme, mensyaratkan pemisahan fakta dan nilai dalam rangka menuju pada pemahaman obyektif atas realitas sosial. Kedua, hermeneutic knowledge, ilmu sosial yang dimaksudkan untuk memahami realitas sosial secara sungguh-sungguh jadi, lebih kepada kajian filosofis. Ketiga, critical emancipatory knowledge, ilmu sosial dipahami sebagai proses katalisasi untuk membebaskan manusia dari ketidakadilan. Paradigma ini memperjuangkan pendekatan yang bersifat holistik dan menghindari cara berpikir deterministik dan reduksionistik

Sejajar dengan para tokoh revolusi dan pemikir lainnya adalah Muammar Kadafi. tokoh revolusi Libya ini memahami Islam berdasarkan interpretasi sejarah dan teologi Islam secara sosialistik. Tentang hak pemilikan tanah, Kadafi menganggap bahwa tanah adalah milik Allah dan manusia hanya memanfaatkannya. Untuk itu Kadafi melancarkan aksi pengaturan sumber daya alam yang bercorak sosialis. Pembaharuan keagamaannya justru kemudian menggeser hukum dan yurisprudensi Islam dari arena publik di Libya. Bagi Kadafi, fikih, yang merupakan tafsiran ulama tidak memiliki kekekalan kebenaran seperti Al-Qur’an. Oleh karena itu, revolusi Libya adalah revolusi sosial yang juga merupakan gerakan pengembalian Islam kepada watak dasarnya. Menjadi penting jika pada saat ini para pemikir pembaruan Islam kembali menengok gerak perjuangan Kadafi. Dalam kaitan itulah ‘membaca’ Kadafi akan menyumbangkan setetes inspirasi dari lautan inspirasi yang diperlukan untuk membangun pemikiran dan tatanan alternatif yang terbaik yang tengah dicari dan diharapkan bangsa Indonesia saat ini.

Tentang kaitannya dengan Islam, menghadapi tantangan kehidupan & globalisasi ini, menengok kepada sejarah lahirnya Islam di tengah elit Quraisy. Ketika itu Islam merupakan gerakan spiritual, moral, budaya, politik, serta sistem ekonomi alternatif. Selain itu Islam lahir sebagai jalan pembebasan dan kemanusiaan dari dua kekuatan global zamannya, yakni kekuasaan Romawi di Barat dan Bizantium di Timur. Tetapi apakah Islam akan dapat mempertahankan citra dan visi spiritual sebagai penebar rahmat pembebas bagi kaum tertindas, pembebas manusia dari segala alienasi? Apakah Islam mampu menjadi jalan alternatif manusia untuk lepas dari berbagai jeratan ketidakadilan? Apakah Islam mampu melawan gurita ideologi neoliberalisme, marjinalisasi politik ekonomi dan peminggiran budaya rakyat akibat jeratan kapitalisme global? Jawaban untuk ini kembali pada teologi dan paradigma pemikiran Islam itu sendiri, karena Islam secara teologi, paradigma maupun teori sosial sangatlah plural. Dalam hal ini melakukan pemetaan terhadap golongan Islam di Indonesia berdasarkan ideologi mereka dalam merespon kemiskinan, membagi empat paradigma/perspektif yakni tradisionalis, modernis/liberal, revivalis/fundamentalis, dan transformatif. Menganggap peluang besar untuk terjadinya perubahan sosial terdapat pada paradigma transformatif. Merakalah yang diharapkan akan mampu menciptakan ruang dalam proses demokratisasi ekonomi, politik, dan budaya di Indonesia. Sayangnya, paradigma golongan ini masih elitis dan belum mampu menemukan legitimasi teologis yang didukung masyarakat secara meluas.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: